Malaika Creatio Tampilkan Kerajinan Bambu dan Complong Ramah Lingkungan di Festival Harmoni Imlek Nusantara 2026

0
IMG-20260228-WA0017

NUSSAFAKTA.COM, JAKARTA – Semangat pelestarian budaya sekaligus kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan Malaika Jayaditha, owner brand Malaika Creatio, saat ambil bagian dalam Festival Harmoni Imlek Nusantara 2026 yang berlangsung pada 22 Februari hingga 1 Maret 2026 di Lapangan Banteng.

Di sela kegiatan pameran, Rabu (25/2), Malaika menjelaskan bahwa brand yang dirintisnya berfokus pada produk kerajinan berbahan bambu dan anyaman pandan yang ia sebut sebagai “complong”. Menurutnya, pilihan material alami bukan sekadar tren, melainkan bagian dari komitmen terhadap budaya dan lingkungan.

“Nama saya Malaika Jayaditha dari Malaika Creatio. Produk unggulan kami adalah bambu dan complong. Kami para pengrajin bambu punya concern besar terhadap budaya Indonesia, sehingga menggunakan bahan-bahan alami yang natural dan eco-friendly,” ujarnya.

Ia menerangkan, complong merupakan anyaman pandan yang diproduksi langsung oleh para pengrajin lokal dengan teknik tradisional yang tetap mempertahankan nilai estetika Nusantara. Seluruh proses produksi dilakukan tanpa campuran bahan sintetis, sehingga menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan sekaligus bernilai budaya tinggi.

Dalam koleksinya, Malaika Creatio menghadirkan beragam produk, mulai dari cangkir bambu, tumbler bambu berukuran 150 ml hingga 500 ml, hingga berbagai model complong seperti tipe handy dan silinder. Mereka juga menciptakan storage unik menyerupai kaleng kerupuk yang dilengkapi roda untuk memudahkan mobilisasi, terutama bagi ibu rumah tangga maupun lansia.

“Semua kami desain dengan mempertimbangkan fungsi dan kenyamanan. Jadi bukan hanya estetik, tapi juga bermanfaat,” jelasnya.

Terkait bahan baku, Malaika menegaskan bahwa tidak semua jenis bambu dapat digunakan. Pihaknya memilih bambu hitam dengan kualitas tertentu agar lebih kuat dan tahan lama. Proses pengeringan dilakukan menggunakan oven khusus bekerja sama dengan pengrajin yang memiliki fasilitas tersebut.

“Kalau pengrajin tradisional biasanya dijemur di bawah matahari, tapi kami memastikan bambu benar-benar kering sempurna dengan oven, sehingga tidak menimbulkan jamur dan lebih awet,” tegasnya.

Keikutsertaan dalam Festival Harmoni Imlek Nusantara 2026 menjadi pengalaman pertama bagi Malaika Creatio. Meski demikian, brand ini telah berpengalaman mengikuti pameran berskala nasional dan internasional seperti Trade Expo Indonesia dan Inacraft.

Malaika mengungkapkan produknya telah menembus pasar ekspor. Repeat order sebanyak tiga kali berasal dari pelanggan di Madrid, Spanyol. Sementara untuk Belanda, repeat order tercatat satu kali. Selain itu, beberapa kedutaan besar di Indonesia serta turis mancanegara juga pernah menjadi pelanggan mereka.

“Kendala terbesar kami justru produk impor berbahan plastik. Kami UMKM mencoba memperkenalkan produk ramah lingkungan, tapi produk impor yang murah menjadi tantangan tersendiri,” ungkapnya.

Untuk pameran kali ini, Malaika Creatio belum menawarkan promo khusus. Ia menegaskan fokus utamanya adalah memperkuat branding dan memperluas jaringan.

“Kami ingin maju ke kancah global, tapi juga ingin merangkul UMKM lain untuk sama-sama berkembang,” katanya.

Antusiasme pengunjung pun cukup positif. Sejumlah pihak dari sektor hotel dan perkantoran menanyakan minimal order untuk kebutuhan corporate maupun event.

Lebih jauh, Malaika menilai keikutsertaannya dalam Festival Harmoni Imlek Nusantara bukan sekadar soal penjualan, tetapi juga bagian dari misi budaya.

“Indonesia itu berbeda agama, suku, dan ras, tapi harus tetap satu. Dengan nuansa Imlek seperti ini, kita saling menghargai. Generasi muda jangan sampai lupa budaya sendiri,” tuturnya.

Ia berharap fasilitasi event seperti ini dapat membuka peluang lebih luas bagi UMKM untuk naik kelas dan memperluas pasar hingga tingkat nasional maupun internasional.

“Kami berharap dengan adanya dukungan seperti ini, UMKM punya kesempatan lebih besar untuk berkembang secara ekonomi sekaligus melestarikan budaya,” pungkas Malaika Jayaditha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *