Takut Hisab, Bukan Takut Jabatan: Teladan Kepemimpinan dari Umar bin Khattab

0
IMG-20260221-WA0021

NUSSAFAKTA.COM, JAKARTA — Edisi Ramadan kembali menghadirkan refleksi kepemimpinan melalui sosok besar dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab, khalifah kedua yang dikenal karena ketegasan, kejujuran, dan rasa tanggung jawabnya yang luar biasa terhadap amanah kekuasaan. Tulisan ini menjadi pengingat penting bagi para pemimpin masa kini tentang makna sejati jabatan dan kepemimpinan.

Lahir di Makkah sekitar tahun 584 M, Umar bin Khattab tumbuh dalam lingkungan keras yang membentuk karakter kuat, berani, dan tegas. Ia bukan figur yang lahir dari panggung pencitraan, melainkan ditempa langsung oleh realitas hidup. Sebelum memeluk Islam, Umar dikenal sebagai sosok keras, bahkan sempat menentang dakwah Rasulullah. Namun perjumpaannya dengan kebenaran melalui Surah Thaha pada tahun 616 M mengubah hidupnya secara total. Dari penentang menjadi pembela Islam, dari keras menjadi adil.

Masuk Islamnya Umar membawa dampak besar. Ia tampil terbuka, menunaikan salat di Ka’bah secara terang-terangan, dan mendapat gelar Al-Faruq—pembeda antara yang haq dan batil. Dalam perjalanan sejarah, Umar selalu berada di garis depan perjuangan, mulai dari Badar hingga Fathu Makkah. Ia juga dikenal sebagai sosok yang mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, termasuk ketika menyerahkan setengah hartanya untuk kebutuhan Perang Tabuk.

Setelah wafatnya Rasulullah pada tahun 632 M, Umar berperan penting menjaga stabilitas umat bersama Abu Bakar, termasuk dalam penumpasan Perang Riddah dan pengumpulan Al-Qur’an menjadi mushaf. Fokus kepemimpinannya jelas: menjaga akidah, menata negara, dan melayani umat.

Pada tahun 634 M, Umar diangkat sebagai khalifah kedua. Selama sepuluh tahun kepemimpinannya (634–644 M), dunia menyaksikan perubahan besar. Kekaisaran Persia runtuh, wilayah Bizantium menyusut, dan wilayah Islam meluas hingga Syam, Palestina, Mesir, dan Libya. Namun yang lebih penting dari ekspansi wilayah adalah fondasi tata kelola negara yang dibangun Umar: pembentukan Baitul Mal, sistem gaji aparatur dan tentara, tunjangan sosial bagi anak-anak, janda, fakir miskin, termasuk non-Muslim, hingga penetapan kalender Hijriyah dan pelaksanaan sensus penduduk.

Ketegasan Umar juga tercermin dalam penegakan etika kekuasaan. Ia tidak ragu mencopot Khalid bin Walid dari jabatan panglima demi menjaga prinsip bahwa kemenangan datang dari Allah, bukan dari ketokohan individu. Dalam masa paceklik tahun 638 M, Umar memilih hidup sederhana, hanya makan roti dan minyak zaitun, seraya memastikan rakyatnya tidak kelaparan. Ia bahkan memanggul sendiri gandum untuk janda miskin, tanpa pencitraan dan tanpa sorotan.

Dalam hal keadilan dan antikorupsi, Umar dikenal tanpa kompromi. Gubernur dilarang berdagang, dan keuntungan yang diperoleh dari jabatan disita untuk negara. Umar sendiri tunduk pada hukum, bahkan ketika kalah di pengadilan. Baginya, hukum berdiri di atas kekuasaan.

Puncak keteladanan itu terjadi pada 3 November 644 M. Saat memimpin salat Subuh di Masjid Nabawi, Umar ditikam oleh Abu Lu’lu’ah. Dalam kondisi luka parah, kalimat pertama yang keluar dari lisannya bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang salat umat: “Apakah kaum Muslimin telah menyelesaikan salatnya?” Menjelang wafat, ia membentuk tim musyawarah untuk memilih khalifah berikutnya, tanpa menunjuk keluarga atau membangun dinasti.

Umar bin Khattab wafat pada usia sekitar 60 tahun dan dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar. Ia meninggalkan warisan kepemimpinan yang berpijak pada rasa takut kepada hisab, bukan pada kehilangan jabatan.

Refleksi ini menjadi sindiran halus namun tajam bagi realitas kekuasaan hari ini. Umar khawatir jika seekor hewan kelaparan di tepi Sungai Efrat, ia akan dimintai pertanggungjawaban. Sebuah standar moral yang relevan lintas zaman.

Umar bukan malaikat. Ia manusia. Namun ia adalah manusia yang memahami bahwa jabatan adalah amanah, kekuasaan adalah tanggung jawab, dan keadilan adalah inti dari kepemimpinan.

Foto AI hanya ilustrasi.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *